NGANJUK – Alhamdulillah wa syukrulillah, suasana penuh keberkahan, rasa haru, dan kebanggaan menyelimuti seluruh civitas akademika STAI KH. Zainuddin Ponpes Mojosari, Nganjuk. Berada di bumi pesantren yang sarat akan nilai-nilai keilmuan dan keislaman, prosesi Yudisium Wisudawan Perdana telah resmi dilaksanakan dengan penuh khidmat.
Momen ini menjadi tonggak sejarah tersendiri bagi almamater tercinta. Sebagai angkatan lulusan pertama, para yudisawan telah membuktikan keteguhan niat, kesabaran dalam menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi), serta ketaatan dalam menyerap ajaran para guru dan kiai selama masa studi. Ini bukan sekadar penanda selesainya masa studi, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Sebagai angkatan lulusan pertama, para yudisawan merupakan pelopor pemikir berakhlak mulia yang siap membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan ke tengah masyarakat.
Perjalanan menimba ilmu di lingkungan pesantren dan akademis bukan sekadar mencari selembar ijazah atau gelar akademik, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk membentuk insan yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan. Yudisium perdana ini adalah bukti nyata komitmen STAI KH. Zainuddin Ponpes Mojosari dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual (tafaqquh fiddin) serta berakhlakul karimah.

Ketua STAI KH. Zainuddin Ponpes Mojosari, Agus Ahmad Fatih Alfaiz Binasrillah, Lc., M.Ag., menekankan bahwa gelar sarjana bukan sekadar piala atau hiasan nama, melainkan sebuah amanah intelektual dan moral.
“Jika nama lahir ditebus dengan akikah oleh orang tua, maka gelar akademis ini telah ‘ditebus’ oleh perjuangan kalian sendiri melalui keringat, malam-malam belajar, tirakat menuntut ilmu, serta doa dan keridaan dari kiai, dosen, dan orang tua. Oleh karena itu, gelar ini membawa tanggung jawab besar untuk menjaga tutur kata, sikap, dan tindakan di tengah masyarakat,” tegas beliau.
Beliau juga menambahkan ungkapan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas, “Ilmu tanpa agama adalah kebutaan, dan agama tanpa ilmu adalah kelumpuhan. Di bumi Mojosari ini, keduanya disatukan dalam satu tekad pengabdian.”
Di akhir pidatonya, beliau mengingatkan bahwa gelar akademis yang kini melekat bukanlah garis akhir (finish line), melainkan pintu gerbang menuju medan perjuangan yang sesungguhnya. Di luar sana, masyarakat tidak hanya melihat gelar di belakang nama, tetapi menantikan kebermanfaatan dan akhlak mulia (khairunnas anfa’uhum linnas).
Oleh karena itu, beliau menyampaikan tiga pesan utama sebagai pedoman melangkah:
- Tetaplah Menjadi Santri: Setinggi apa pun gelar dan jabatan kalian kelak, jangan pernah kehilangan jiwa kesantriannya. Tetaplah rendah hati (tawadhu), taat kepada guru dan ustadz, serta pegang teguh nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah.
- Jangan Pernah Berhenti Belajar: Ilmu Allah itu seluas samudra. Gelar sarjana hanyalah kunci kecil untuk membuka pintu keilmuan yang jauh lebih luas.
- Mengabdi dengan Ikhlas: Jadikan ilmu kalian sebagai jalan penerang bagi masyarakat. Sebarkan kemanfaatan, jadilah solusi atas permasalahan umat, dan harumkan nama STAI KH. Zainuddin serta Ponpes Mojosari di mana pun kalian berada.

Selamat dan sukses kepada seluruh peserta Yudisium Perdana STAI KH. Zainuddin Ponpes Mojosari. Teruslah melangkah dan mengabdi untuk agama, bangsa, serta almamater tercinta!