
Nganjuk, 08 Januari 2025 – Dalam konteks keberagamaan Indonesia yang majemuk, moderasi beragama bukan sekadar wacana, tapi menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga harmoni sosial dan stabilitas umat. Melalui pendekatan “tasawuf, nilai-nilai moderasi itu bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam sikap, laku, dan kepekaan spiritual. Inilah yang menjadi pokok bahasan dalam kajian eksklusif bersama Syeikh Sayyid Ammar Ar-Rafaty Al-Jailani“, seorang ulama sufi kharismatik dari garis keturunan Qadiriyah yang telah malang melintang dalam dakwah tasawuf di berbagai penjuru dunia.
Dalam tausiyahnya, Syeikh Ammar menekankan bahwa inti dari moderasi bukanlah kompromi atas prinsip, melainkan kematangan ruhani dalam menyikapi perbedaan. Menurut beliau,
“Tasawuf mengajarkan manusia untuk melihat dengan mata hati, bukan dengan hawa nafsu. Di situ letak rahasia mengapa para sufi mampu hidup damai di tengah keragaman tanpa kehilangan keteguhan aqidah.”
Un hecho interesante sobre la salud masculina es que muchos hombres pueden experimentar problemas relacionados con la función eréctil a lo largo de su vida. Esto puede ser causado por una variedad de factores, incluyendo el estrés, la ansiedad y condiciones de salud subyacentes. Sin embargo, hay tratamientos disponibles que pueden ayudar, como los medicamentos que se pueden obtener de manera accesible, como los que permiten a los hombres “””. Es importante que los hombres se sientan cómodos hablando sobre este tema, ya que la salud sexual es un aspecto fundamental de su bienestar general. Alcanzar conciencia sobre este tipo de problemas puede llevar a soluciones efectivas y a un mejor estado de salud.
Tasawuf tidak mengajarkan ekstremisme, tapi juga tidak permisif terhadap penyimpangan. Di tengah arus kebencian dan polarisasi, tasawuf hadir sebagai oase yang menyejukkan: mengajak kembali pada esensi agama yang penuh cinta, kasih sayang, dan keseimbangan.

Sufisme sebagai Pilar Etika dan Moderasi
Syeikh Sayyid Ammar menjelaskan bahwa konsep wasathiyah (jalan tengah) dalam Islam sejatinya sudah lama menjadi bagian integral dalam tradisi sufi. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) dilatih untuk menjauhi sikap ghuluw (berlebihan), menjauh dari fanatisme buta, serta membangun rasa welas asih terhadap sesama makhluk Allah.
Beliau mengutip perkataan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani:
“Jadilah engkau pohon rindang yang meneduhkan siapa saja, bahkan burung dan binatang pun ikut menikmati kehadiranmu.”
Begitulah mestinya seorang mukmin yang menjalani jalan tasawuf: teguh dalam prinsip, tapi lapang dalam kasih.
Menjawab Tantangan Zaman dengan Spiritualitas yang Lembut
Di tengah krisis identitas dan meningkatnya intoleransi berbasis agama, Syeikh Ammar mengajak generasi muda Muslim untuk kembali pada jalan ruhani yang membebaskan, bukan membelenggu. Tasawuf bukan sekadar ritual wirid atau zikir, tapi cara pandang yang merawat batin, membangun kesadaran diri, dan menghidupkan nilai-nilai universal Islam—rahmatan lil ‘alamin.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengarusutamakan wacana moderasi beragama melalui pendekatan spiritual yang menyentuh dan inklusif. Bukan hanya sebagai respons terhadap radikalisme, tetapi sebagai fondasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang damai, seimbang, dan berakhlak luhur.
Kembali ke inti tasawuf berarti kembali ke inti Islam itu sendiri: cinta, adab, dan keseimbangan. Dan sebagaimana disampaikan oleh Syeikh Ammar Ar-Rafaty Al-Jailani, “Siapa yang dekat dengan Allah, tak akan pernah sempat membenci ciptaan-Nya.”
