Nganjuk, 23 Oktober 2023
Di era digital yang serba cepat, generasi Z tumbuh dengan akses informasi yang nyaris tanpa batas. Namun, di balik derasnya arus konten hiburan dan tren viral, ada satu hal yang tak kalah penting untuk disadari: politik menyentuh setiap aspek kehidupan kita.
Mengapa Gen-Z Harus Melek Politik?
Sayangnya, banyak dari Gen-Z yang masih menganggap politik sebagai hal yang membosankan, rumit, atau bahkan kotor. Padahal kenyataannya, keputusan politik berdampak langsung pada kualitas hidup kita—mulai dari biaya pendidikan, lapangan kerja, hingga kebebasan berekspresi di media sosial.
Akses Informasi Bukan Jaminan Kesadaran
Gen-Z dikenal sebagai generasi paling terhubung secara digital. Tapi tanpa kesadaran politik, informasi hanya jadi konsumsi pasif. Kita butuh literasi politik untuk memilah mana opini, mana fakta; mana aspirasi, mana manipulasi.
Kita Pemilik Masa Depan
Kebijakan hari ini adalah penentu realitas kita besok. Kalau kita diam, ruang-ruang pengambilan keputusan akan terus dikuasai oleh mereka yang belum tentu mewakili kepentingan kita. Maka bersuara dan terlibat adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai warga negara muda.
Politik Bukan Hanya Soal Pemilu
Politik bukan sekadar nyoblos lima tahun sekali. Politik ada dalam gerakan sosial, advokasi lingkungan, kesetaraan gender, hak digital, bahkan dalam keputusan kampus atau komunitas. Gen-Z bisa berpolitik tanpa harus masuk partai.

Pandangan dari Tokoh Perempuan Muda
Menurut Ning Ema Ummuiyatul Husna, aktivis perempuan muda dan pengasuh pesantren yang aktif dalam pendidikan politik masyarakat, “Gen-Z adalah generasi dengan potensi pengaruh yang sangat besar. Tapi potensi itu akan hilang kalau kita abai terhadap politik. Melek politik artinya sadar akan hak, tanggung jawab, dan peran kita dalam menciptakan tatanan masyarakat yang lebih adil dan bermartabat.”
Beliau juga menekankan pentingnya pendidikan politik sejak dini, bukan untuk menjerumuskan ke dalam konflik kekuasaan, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran kritis dan etika berkehidupan berbangsa.
Perempuan, Santri, dan Politik: Ruang Harus Dibuka Lebar
Sebagai perempuan dan tokoh santri, Ning Ema Ummuiyatul Husna juga menyoroti pentingnya membuka ruang partisipasi politik bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan. “Politik bukan hanya milik elite dan laki-laki. Perempuan, santri, bahkan kelompok marginal punya perspektif yang sangat berharga dalam membentuk arah kebijakan. Justru keberagaman itulah yang membuat politik menjadi sehat dan adil,”
tegasnya. Maka, melek politik juga berarti mendorong kesetaraan akses dan keterwakilan—agar demokrasi tak hanya jadi jargon, tapi nyata dalam struktur sosial kita.
Dari Digital ke Aksi Nyata
Gen-Z punya keunggulan di ruang digital, tapi perubahan sejati butuh langkah konkret. Aksi nyata bisa dimulai dari ikut forum diskusi, membuat konten edukatif, ikut mengawasi kebijakan lokal, hingga berjejaring dengan komunitas advokasi. Semakin banyak anak muda yang terlibat, semakin kuat pula posisi rakyat dalam mengontrol jalannya pemerintahan. Karena politik yang sehat tidak lahir dari elite, tapi dari rakyat yang tidak bisa lagi dibodohi.
